Selasa, 13 Desember 2016

Pertanyaan-pertanyaan Kefilsafatan yang Mendasar


          Disini kita tidak boleh menganggap telah purna tugas sebelum menegmukakan dan berusaha menjawab 2 pertanyaan: apakah pertanyaan-pertanyaan itu mengandung makna? Dan apakah pernyataan-pernyataan itu benar? Kita harus selalu menanyakan apakah makna yang dikandungnya? Apakah bukti-buktinya? Inilah pertanyaan pertanyaan yang mendasar dari filsafat. Dan Pada artikel kali ini saya akan membahas temtamg istilah-istilah yang kita jumpai pada kefilsafatan.
1.    Yang – Ada (Being)
Istilah yang paling umum. Istilah ‘yang ada’ memiliki bermacam makna. Sebagian orang menumbuhkannya dengan dua istilah yang lain- esensi dan eksitensi. Hal ini akan saya jelaskan dibawah. Kita mengatakan, sesuatu apapun halnya yang bersifat ‘yang ada’. Atau singkatnya barang sesuatu itu ‘ada’. Istilah ini diterapkan kepada segala sesuatu hakikat atau jenisnya. Sesuatu yang bereksitensi, misalnya bangku, pertama-tama harus memiliki sifat ada sebelum dapat bereksitensi. Demikian juga segenap hal lain, misalnya pikiran dan perasaan yang tidak dapat dikatakan bereksitensi, dikatakan ‘ada’ atau bersifat ‘yang ada’. Predikat ‘yangada’  memberikan batasan untuk suatu himpunan sedemikian rupa sehingga segala sesuatu , baik nyata maupun dalam anagan-angan , termasuk didalam himpunan tersebut. Dengan kata lain ‘yang ada’ itu merupakan predikat yang paling umum serta paling sederhana diantara semua predikat. ‘yang ada’ merupakan predikat universal, dalam arti bahwa ‘yang ada’  merupakan predikat dari setiap satuan yang mungkin ada.
2.    Kenyataan (Reality)
Kenyataan dapat juga didefinisikan sebagai sesuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya, yang dilawankan dengan apa yang ditangkap dalam impian atau khayalan. (tangkapan yang dapat dipercaya ialah tanggkapan yang tidak mengandung kesalahan) . istilah kenyataan yang dimaksud disini tidak boleh dijumbuhkannya dengan eksitensi, meskipun ada orang yang menjmbuhkannya demikian. Kita dapat mengubah peristilahan kita dan menyatakan bahwa yang nyata ialah sesuatu yang benar-benarada. Yang nyata memiliki sifat yang ada, tetapi sesuatu yang mempunyai sifat yang ada tidak harus bersifat nyata.
3.    Eksitensi (Existence)
Eksitensi mengandung pengertian ruang dan waktu. Ekstensi merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksitensi tentu nyada ada, tetapi tidak sebaliknya. Sesuatu dikatakan bereksitensi jika hal itu adalah sesuatu, menurut W.T Stace, bersifat publik. Bersifat publik artinya objek itu sendiri harus dialami atau dapat dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.
4.    Esensi
Esensi ialah hakikat barang sesuatu. Kita membicarakan sejumlah istilah yang berhubungan dengan sesuatu yang khusus. Esensi segitiga adalah sesuatu yang menjadikan segitiga. Dewasa ini salah satu diantara masalah-masalah yang menggangu kita terletak pada kebingungan kita mengenai esensi manusia.
5.    Substansi (substance)
Wahana bagi sifat-sifat. Hubungan antara substansi dengan esensi adalah serupa dengan hubungan antara eksitensi dengan kenyataan. Substansi ialah segala sesuatu yang mendasari atau mengandung kualitas-kualitas serta sifat-sifat kebetulan yang dipunyai barang tertentu.
6.    Materi
Materi dapat dilihat dari banyak cara yang berbeda-beda. Mater adalah perkataan yang digunakan sebagai nama jenis substansi yang mendasar dari alam fisik.


Inilah beberapa pertanyaan kefilsafatan yang mendasar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar