Disini
kita tidak boleh menganggap telah purna tugas sebelum menegmukakan dan berusaha
menjawab 2 pertanyaan: apakah pertanyaan-pertanyaan itu mengandung makna? Dan
apakah pernyataan-pernyataan itu benar? Kita harus selalu menanyakan apakah
makna yang dikandungnya? Apakah bukti-buktinya? Inilah pertanyaan pertanyaan
yang mendasar dari filsafat. Dan Pada artikel kali ini saya akan membahas
temtamg istilah-istilah yang kita jumpai pada kefilsafatan.
1. Yang
– Ada (Being)
Istilah yang paling umum.
Istilah ‘yang ada’ memiliki bermacam makna. Sebagian orang menumbuhkannya
dengan dua istilah yang lain- esensi dan eksitensi. Hal ini akan saya jelaskan
dibawah. Kita mengatakan, sesuatu apapun halnya yang bersifat ‘yang ada’. Atau
singkatnya barang sesuatu itu ‘ada’. Istilah ini diterapkan kepada segala
sesuatu hakikat atau jenisnya. Sesuatu yang bereksitensi, misalnya bangku,
pertama-tama harus memiliki sifat ada sebelum dapat bereksitensi. Demikian juga
segenap hal lain, misalnya pikiran dan perasaan yang tidak dapat dikatakan
bereksitensi, dikatakan ‘ada’ atau bersifat ‘yang ada’. Predikat ‘yangada’ memberikan batasan untuk suatu himpunan
sedemikian rupa sehingga segala sesuatu , baik nyata maupun dalam anagan-angan ,
termasuk didalam himpunan tersebut. Dengan kata lain ‘yang ada’ itu merupakan
predikat yang paling umum serta paling sederhana diantara semua predikat. ‘yang
ada’ merupakan predikat universal, dalam arti bahwa ‘yang ada’ merupakan predikat dari setiap satuan yang
mungkin ada.
2. Kenyataan
(Reality)
Kenyataan dapat juga
didefinisikan sebagai sesuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat
dipercaya, yang dilawankan dengan apa yang ditangkap dalam impian atau khayalan.
(tangkapan yang dapat dipercaya ialah tanggkapan yang tidak mengandung
kesalahan) . istilah kenyataan yang dimaksud disini tidak boleh dijumbuhkannya
dengan eksitensi, meskipun ada orang yang menjmbuhkannya demikian. Kita dapat
mengubah peristilahan kita dan menyatakan bahwa yang nyata ialah sesuatu yang
benar-benarada. Yang nyata memiliki sifat yang ada, tetapi sesuatu yang
mempunyai sifat yang ada tidak harus bersifat nyata.
3. Eksitensi
(Existence)
Eksitensi mengandung
pengertian ruang dan waktu. Ekstensi merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus
dari sesuatu. Apapun yang bereksitensi tentu nyada ada, tetapi tidak
sebaliknya. Sesuatu dikatakan bereksitensi jika hal itu adalah sesuatu, menurut
W.T Stace, bersifat publik. Bersifat publik artinya objek itu sendiri harus
dialami atau dapat dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.
4. Esensi
Esensi ialah hakikat barang
sesuatu. Kita membicarakan sejumlah istilah yang berhubungan dengan sesuatu
yang khusus. Esensi segitiga adalah sesuatu yang menjadikan segitiga. Dewasa
ini salah satu diantara masalah-masalah yang menggangu kita terletak pada
kebingungan kita mengenai esensi manusia.
5. Substansi
(substance)
Wahana bagi sifat-sifat.
Hubungan antara substansi dengan esensi adalah serupa dengan hubungan antara
eksitensi dengan kenyataan. Substansi ialah segala sesuatu yang mendasari atau
mengandung kualitas-kualitas serta sifat-sifat kebetulan yang dipunyai barang
tertentu.
6. Materi
Materi dapat dilihat dari
banyak cara yang berbeda-beda. Mater adalah perkataan yang digunakan sebagai
nama jenis substansi yang mendasar dari alam fisik.
Inilah beberapa pertanyaan
kefilsafatan yang mendasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar