Selasa, 13 Desember 2016

Perkembangan Filsafat Ilmu Pada Zaman Hellenisme


            Zaman Hellenisme adalah zaman keemasan kebudayan Yunani. Tokoh yang berjasa dalam pengembangan kebudayaan Yunani adalah Iskandar Agung (356-323) dari Macedonia, salah seorang murid Aristoles. Akibat ekspansi besar-besaran yang dilakukannya, kebadayaan yunani dengan cepat tersebar memasuki wilayah Persia, Irak, Mesir, Surya Yudea, India, dan Asia Tengah.
            Pada masa Hellenisme ini terdapat 3 aliran filsafat yang menonjol, yaitu; 1. Filsafat stoisime, 2. Filsafat epikurisme, 3. Filsafat neoplatonisme. Disamping ketiga aliran ini, adalagi skeptisme yang dipelopori oleh seorang filosof Pyrrho (365-275) dan Elektisisme oleh Cicero (106-43 SM). Kedua aliran ini merupakan gerakan berpikir, sehingga tidak dibahas lebih lanjut.
§  Stoisisme
Stoisime dirintis oleh Zeno (336-264 SM). Pada dasarnya, stoisme sendiri tidak lahir tepat pada zaman hellenisme. Stoisisme berasal dari kata stoa (gang-gang), memiliki tiga tahapan. Pertama, stoa ini berkembang pada zaman yunani kuno dengan tokoh bernama Anthisthenes. Perkembangan kedua muncul pada masa hellenisme, dalam perkembangan berikutnya ajaran stoa ini bangkit kembali pada masa Romawi dengan tokoh seperti Sineca dan Markus. Inti utaa ajaran stoa adalah Etika. Menurut ajaran ini manusia adalah sebagian dari alam, sehinggga ia wajib hidup selaras dengan alam.
§  Epikurisme
Adalah suatu ajaran yang dirintis oleh seorang filosof yang bernama Epikuros, beliau hidup ditahun 341 smpai 270 SM. Seperti halnya stosisme, ajaran epikurisme ditandai dengan banyak konsep dar pemikiran tentang etika, pandangan tentang etika inilah yang membuat epikurisme menjadi lebih menonjol pada zamannya. Filsafat epikurisme bertujuan mencapai kenikmatan hdiup manusia melalui hidup yang beretika. Kenikmatan hidup itu baru tercapai ketika ada ketenangan batin, pada masa itu ketenangan batin sulit sekali diperoleh manusia karena kehidupan manusia waktu itu diaancam oleh rasa takut kepada para dewa, yang sangat empirik tidak masuk akal. Untuk itu lahirlah ajaran epikurisme yang memberi solusi kepada manusia dalam mengatasi rasa takut itu. Manusia harus memiliki keikmatan hidup, bukan sebaliknya, kenikmatan yang dimiliki manusia, oleh sebab itu untuk mencapai maksud tersebut manusia harus membatasi keinginan hidupnya.
§  Neoplatonisme

Sebagai aliran terakhir yang muncul pada masa puncak keemasan Yunani, Kuno, yakni setelah Platonus wafat, aliran neoplatonisme sempat dikembangkan oleh murid Platonus bernama Porphyrios, yang berhasil menuliskan kembali pemikiran gurunya itu dan perkembangan selanjutnya, ternyata tulisan-tulisan Porphyrios ini angat bertolak belakang dengan ajaran agama Kristen, oleh karena itu Caesar Justinianus I (483-565) dari Byzantium menyatakan bahwa ajaran in dianggap ajaran kaum kafir, karena konsep ajarannya bertolak dari pemikiran ‘Kesatuan’, yakni segala sesuatunya berasal dari yang satu, sehingga pada tahun 5129, Caesar pertama kali menyatakan bahwa ajaran ini dilarang dan semua sekolah yang mengajarkan lalu ditutup. Inti dari ajaran neoplatonisme berpangkal pada konsep kesatuan, artinya segala sesuatu “berasaldari yang satu dan akan kembali kepada yang satu pula” . adapun yang dengan yang satu tersebut tidak lain adalah “Allah” yang diistilahkannya sebagai to Hen. 

1 komentar:

  1. penjelasan singkat tapi menyeluruh baik untuk pengetahuan umum

    BalasHapus