Rabu, 28 Desember 2016

Peranan Ilmu Terhadap Kebudayaan Nasional




            Dalam pengembangan kebudayaan nasional nilai kritis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan mengabdi secara nasional sangat diperlukan. Dalam menghadapi dunia modern sekarang ini diperlukan cara-cara yang terkandung dalam nilai-nilai ilmiah.
            Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi tujuan nasional. Langkah-langkah yang sistematik menurut Endang Daruni Asdi  (1991) adalah sebagai berikut.
1.      Ilmu dan kegiatan keilmuwan disesuaikan dengn kebudayaan yang ada dalam masyarakat kita, dengan pendekatan edukatif dan persuasif dan menghindari konflik-konflik, bertitik tolak dari reinterpretasi nilai yang adaa dalam argumentasi keilmuwan.
2.      Menghindari scientisme dan pendasaran terhadap akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran
3.      Meningkatkan integritas ilmuwan dan lembaga keilmuwan, dan melaksanakan dengan konsekuen kaidah moral kegiatan keilmuwan
4.      Pendidikan keilmuwan sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral. Etika dalam kegiatan keilmuwan mempunyai kaidah imperatif.
5.      Pengembangan ilmu disertai pengembangan bidang filsafat. Filsafat ilmu hendaknya diberikan dipendidikan tinggi. Walaupun demikian kegiatan ilmiah tidak berarti lepas dari kontrol pemerintah dan kontrol masyarakat.

Pengertian pendidikan




            Kata pedidikan dalam Bahasa inggris di sebut Educattionyang berasal dari bahasalatin yaitu 'educatum' yang tersusun atas dua kata yaitu 'E' dan "Duco". Kata E berarti sebuah perkembangan dari dalam ke luar atau dari sedikit menjadi banyak, sementara 'Duco' berarti perkembangan atau sedang berkembang. Hal ini secara etimologi, pengertian pendidikan adalah menjadi berkembang atau bergerak dari dalam keluar, atau dengan kalimat lain, pendidikan berarti proses mengembangkan kemampuan diri sendiri (inner abilities) dan kekuatan individu. Kata Education sering juga dihubungkan dengan 'Educere' (Latin) yang berarti dorongan (propulsion) dari dalam keluar. Artinya untuk memberikan pendidikan melalui perubahan yang diusahakan melalui latihan ataupun praktik. Oleh karena itu definisi pendidikan mengarahkan untuk suatu perubahan terhadap seseorang untuk menjadi lebih baik.
Pengertian pendidikan menurut para ahli :
a)      Cryns
Mendidik adalah pertolongan yang diberikan oleh siapa saja yang bertanggung jawab atas pertumbuhan anak untuk membawanya ketingkat dewasa.
b)     Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak.
c)      Dictonary Of Education
Pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana ia hidup, sehingga ia memperoleh atau mengalami perkembangan sosial dan kemampuan individu yang optimum.
d)     Crow and crow
Pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi.
e)      Undang-undang sisdiknas No.20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang di perlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA ILMU DAN KEBUDAYAAN



PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA ILMU DAN KEBUDAYAAN
        Ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu ialah adanya suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai objek formal dan objek material. Karena pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan, maka ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendirinya juga merupakan salah satu unsur kebudayaan.
        Kecuali ilmu merupakan unsur dari kebudayaan, antara ilmu dan kebudayaan yang ada hubungan timbal-balik. Perkembangan ilmu tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikanpengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan kebudayaan, saling tergantung dan saling mendukung. Pada beberapa kebudayaan, ilmu dapat berkembang dengan subur. Disini ilmu mempunyai peran ganda, yakni:
1.    Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan
2.    Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak bangsa. (materi dasar pendidikan program akta mengajar v, hlm.141)

Sertifikat Seminar Nasional dan Bedah Buku


Lafran Pane Pahlawan Nasional



Sosok Lafran Pane tidak bisa dilepaskan dari nama besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia yang berdiri pada 5 Febuari 1947. Sebagai pendiri HMI, bagi kader HMI Beliau (Lafran Pane) tidak hanya punya jasa besar bagi HMI, namun juga bagi bangsa dan negara. Lafran Pane telah menciptakan wadah bagi generasi muda Islam, untuk mempertahankan kemerdekaan dan berkontribusi untuk Indonesia hingga sekarang. Jadi, sudah selayaknya Lafran Pane dijadikan pahlawan nasional, kalau melihat dari jasa-jasa beliau dalam mempertahankan, memperjuangkan meningkatkan serta memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat bangsa Indonesia.

Hingga saat ini, HMI telah melahirkan tokoh-tokoh terbaik bangsa di negeri ini seperti Dahlan Ranuwiharjo, Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Ahmad Syafi Maarif, Kuntowijoyo, Endang Syaifuddin Anshori, Chumaidy Syarif Romas, Agussalim Sitompul, Dawam Rahardjo, Immaduddin Abdurrahim, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Ichlasul Amal, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Bahtiar Effendy, dll.
Selain itu, HMI juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh sosial-ekonomi-politik seperti HMS Mintaredja, M,Sanusi, Bintoro Cokro Aminoto, Ahmad Tirtosudiro, Amir Radjab Batubara, Mar’ie Muhammad, Sulastomo, Ismail Hasan Metareum, Hamzah Haz, Bachtiar Hamzah, Ridwan Saidi, Jusuf Kalla, Amien Rais, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Mahadi Sinambela, Hidayat Nur Wahid, Marwah Daud Ibrahim, Munir SH, Adyaksa Dault, Abdullah Hemahua, Yusril Ihza Mahendra, Syaifullah Yusuf, Bursah Jarnubi, Hamid Awwaluddin, Jimlie Asshiddiqi, Anas Urbaningrum, Irman Gusman, Anies Baswedan, Ferry Musferi Baldan (Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional) , Ade Komarudin (ketua DPR RI), Yuddy Chrisnandi (Menpan RB), Harry Azhar Azis, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2014-2019, Bahlil Lahadalia Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2015 – 2018, dan masih banyak lagi.

Dalam sejarah Universitas Gajah Mada (UGM), Lafran termasuk dalam mahasiswa-mahasiswa yang pertama mencapai gelar sarjana, yaitu tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs. Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia, sejak tanggal 1 Desember 1966, Lafran Pane diangkat menjadi guru besar (profesor) dalam mata kuliah Ilmu Tata Negara.
Istiqamah Dalam Kesederhanaan
Bila ingin menengok bagaimana kesederhanaan dan keteguhan hati dalam menjalani hidup, teladan Lafran Pane telah memberi contoh yang kongkrit. Kesederhaan itu terlihat jelas dalam keseharian nya yang selalu memilih naik sepeda ke manapun perginya di Yogyakarta. Tak peduli menjadi guru besar di berbagai universitas terkemuka, dan tak peduli merasa risih bersaing dengan mahasiswanya yang saat itu sudah banyak naik sepeda motor, Lafran tetap ‘istiqamah’ memilih mengayuh sepeda onthelnya. Bahkan, ketika dia diisengi oleh para mahasiswanya dengan mengerakkan sepedanya di tiang bendera di depan kampus, dia pun menanggapinya dengan sikap biasa saja. Beliau juga memiliki intelegensia yang tinggi sekaligus orang yang sangat teguh hati. Yang paling penting lagi beliau sangat terbuka untuk dikritik serta melakukan dialog.
Meski pendiri HMI, Pria kelahiran Padangsidempuan 5 Februari 1922 ini selalu bersikap biasa aja tehadap organisasi yang telah didirikannya. Ia sama sekali tak pernah merasa sebagai orang ‘yang punya’ HMI dan bersikap santai meski sosoknya kerap tidak dikenali lagi oleh para kader mudanya. Bahkan waktu belIau masih hidup dan aktif mengisi materi pada saat training HMI, anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama ini kerap tidak dikenali.

Lafran pane yang meninggal akibat tertabrak sepeda motor itu telah secara jelas dan sangat pantas menjadi teladan. Sayangnya, beliau belum menyandang gelar pahlawan nasional? Jadi, pengusulan #LafranPanePahlawanNasional yang di prakarsai keluarga besar HMI dianggap sudah sepantasnya dilakukan, mengingat Lafran Pane sudah melahirkan ribuan bahkan jutaan kader dari organisasi tersebut.

HMI-Wati Sosok Perempuan yang Ideal



HMI-Wati Sosok Perempuan yang Ideal
“Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik maka baiklah negaranya, dan apabila perempuannya buruk (amoral) maka buruklah negaranya”.

Penuturan kata-kata di atas adalah suatu syair yang kita ketahui dari arab. Penegasan kata-kata tersebut lebih diabadikan di dalam paragraf Mukaddimah Pedoman Dasar KOHATI (PDK). Syair tersebut adalah suatu harapan atau suatu gambaran keadaan realitas dalam negara yang apabila perempuannya baik maka baiklah  negaranya, atau sebaliknya. Perkataan syair tersebut, penulis pernah mendengar dari suatu film kerajaan di indonesia, yaitu film Angling Dharma. Perkataan yang persis seperti di atas terucap dari ayahnya Dewi Sekarwangi saat awal keberangkatan Angling Dharma dan Dewi Sekarwangi dari rumah ayahnya, setelah diselesaikannya pernikahan mereka. Sungguh memang perempuan menjadi sosok yang sangat luar biasa pengaruhnya.

Landasan yang lebih kuat lagi tentang kedudukan perempuan bagi kita yang meyakini sumber Islam (Al-qur’an dan Hadist), dalam hadist Rasulullah menyebutkan kedudukan seorang ibu sampai tiga kali dan keempat kalinya barulah ayah. Kejadian hadist itu ketika seorang sahabat bertanya tentang hal itu. Betapa Nabi Allah juga berangkat dari perjuangan membela kaum perempuan pada masa itu.
Dalam sejarah perempuan Islam, kiranya dapat kita berikan contoh tokoh-tokoh perempuan nan sangat mulia hatinya dan kuat imannya, yaitu adanya ummul mukminin atau perempuan shaliha (muslimah yang taat) yaitu Siti Khadijah (isteri pertama Rasulullah SAW), Siti aisyah (isteri Rasulullah SAW. atas berkatnya hadist-hadist bisa dapat diketahui secara pasti) dan Siti Fatimah (putri Rasulullah dan isteri imam Ali). kiranya tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi inspirator perempuan-perempuan yang ada di dunia ini, bukan berarti kita menyampingkan tokoh-tokoh muslimah lainnya yang telah banyak berjuang untuk kebaikan selama dalam sejarah keperempuanan.

Marilah kiranya kita lihat keadaan mayoritas perempuan muslim Indonesia hari ini, kita melihat adanya pergeseran nilai, kultural, pergeseran pemahaman atau belum sama sekali paham dengan apa yang dialaminya saat ini. Perempuan muslim saat ini, khususnya di Indonesia, dalam ukuran mayoritas tidak mencerminkan sebagai muslimah yang baik. Saat ini, mengumbar-umbar aurat sudah hal yang biasa dalam kesehari-hariannya. Perempuan yang menutup auratnya dikatakan tidak zamani dan kolot, sedangkan yang mempertontonkan aurat kepada orang yang tidak berhak dipandang suatu tranddan dikatakan maju. Sungguh pola pemikiran yang salah pada pandangan tersebut. Singkatnya, tidak terlihat adanya semangat Islam dalam dirinya.

Kalau kita tarik ke belakang (sejarah penjajahan Belanda di Indonesia), perempuan-perempuan Indonesia sangat membenci adanya budaya-budaya yang datang dari Barat apalagi itu dari Belanda. Jangankan meniru bahasanya, memakai pakaian ala Belanda mereka tidak mau bahkan lagu-lagu barat menjadi lagu-lagu ejekan. Alasannya, karena menurut mereka hal itu dapat mengikis nasionalismenya, dengan sikap itu perempuan ikut berjuang untuk negara dengan segala cara yang dilakukannya. Sungguh mereka adalah perempuan-perempuan pejuang di Indonesia, suatu sosok perempuan yang ideal.
Meneropong masa sekarang, bagaimana perempuan-perempuan Indonesia, khususnya perempuan Islam di Indonesia? Seperti apakah mereka saat ini? Apakah mereka berjuang dengan cara apa yang bisa dibuatnya untuk mempertahankan Indonesia dan agamanya yang diserang secara terus menerus secara halus. Diserang secara halus maksudnya adalah perempuan dipengaruhi atau dirusak dengan menggunakan sarana-prasarana yang diciptakan di Era Globalisasi danModernisasi saat ini. Dahulunya perempuan Indonesia sangat membenci cara-cara orang penjajah dalam pola sikapnya dan tindakannya, seperti mempertontonkan auratnya, sekarang kita lihat lewat begitu didepan mata kita setiap harinya. Hal itu menjadi suantu kebanggaan bagi mereka, lebih miris lagi saat ini banyak kita lihat artis-artis mempertontonkan auratnya dengan bebas lewat Televisi. Dari pertunjukan-pertunjukan liar itu, banyak pulalah perempuan yang mengikuti gaya berpakaian artis tersebut.

Berangkant dari kondisi ini, jauh-jauh hari sudah lama realitas ini ditangkap oleh satu kelompok intelektual muslimah, maka dari itu dibentuklah Korps HMI Wati (KOHATI), suatu lembaga semi-otonom dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di dalam lembaga semi-otonom ini jelas diisi oleh mahasiswi-mahasiswi Islam (Muslimah) atau sering kita sebut HMI-Wati yang telah dikader, dibina secara mandiri, terdidik menjadi perempuan-perempuan yang berkualitas, sehingga HMI-Wati megerti dan paham dalam peran perempuan dalam pembangunan negara.Pada Mukaddimah Pedoman Dasar KOHATI (PDK) menyebutkan bahwa dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, HMI-Wati dituntut untuk menguasai Ilmu Agama sebagai landasan atas keiman, Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) untuk kemudahan dalam aktivitas di dunia, serta keterampilan yang tinggi dengan senantiasa menyadari fitrahnya. Labih lanjut, tujuan KOHATI yang diisi HMI-Wati adalah terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Dimana kita ketahui kualitas insan cita  dalam tafsir tujuan HMI itu terdiri dari : (a). Kualitas Insan Akademis, (b). Kualitas Insan Pencipta, (c). Kualitas Insan Pengabdi, (d). Kualitas Insan yang bernafaskan Islam dan (e). Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.Untuk melihat usaha yang dilakukan dalam mewujudkan HMI-Wati yang berkualitas atau menjadi sosok perempuan yang ideal, ada kualifikasi yang sudah dibuat telah menjadi konsep pengembangan kualitas diri HMI-Wati. Dengan itu, HMI-Wati mempunyai kelebihan, yaitu : (a), Kualifikasi Intelektual, (b). Kualifikasi Kepemimpinan, (c). Kualifikasi Manajerial, dan (d). Kualifikasi Kemandirian. Disamping itu, ada wacana HMI-Wati dan juga spesifikasi gerakan dengan kajian-kajian keperempuanan dalam Islam, peningkatan keintelektualan dengan menggabungkan kajian Tridharma Perguruan Tinggi, dan keperempuanan masa kini.
Dari hal-hal di atas, akan lahirlah HMI-Wati yang menjadi sosok perempuan yang ideal, perempuan yang penuh keimanan, perempuan yang akan berguna untuk negara dan bangsa dan juga keluarganya. HMI-Wati tidak mudah terpengaruh dengan arus leberalisme, globalisasi dan modernisasi yang menjerumuskan manusia. Kalaupun modernisasi tidak terbendung lagi, maka HMI-Wati sudah siap menghadapinya dan tidak menjadi korban. HMI-Wati tidak akan menjadi perempuan pengumbar aurat, perempuan pengrusak tatanan masyarakat tidak menjadi perempuan amoral.
Dengan kualitas insan citanya, dan proses yang dialaminya (proses psikologi dan intelektual), jadi HMI-Wati dengan kemampuan atau kualitas iman yang kuat, intelektual yang tinggi, perempuan yang mandiri dan perempuan yang bermoral. Jadilah ia menjadi sosok perempuan ideal yang mengerjakan amal kebajikan untuk kehidupan yang lebih baik.
“Barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl; 16 : 97).