Metode ini bersifat
praktis dan dijalankan dalam percakapan-percakapan. Socrates tidak menyelidiki
fakta-fakta, melainkan ia menganalisis berbagai pendapat atau aturan-aturan
yang dikemukakan orang. Setiap orang mempunyai pendapat tertentu. Misalnya
seorang negarawan mempunyai mengenai keahliannya, kepada mereka dan kepada
warga negara Athena lainnya, Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai
pekerjaan mereka dan soal-soal praktis dalam hidup seorang manusia.
Socrates selalu mulai
dengan menganggap jawaban pertama sebagai suatu hipotesis dan dengan pertanyaan
lebih lanjut ia menarik segala konsenkuesi yang dapat disimpulkan dari jawaban
tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena
membawa konsenkuesi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis
lain. Hipotesis kedua ini diselidiki dengan pertanyaan lain dari pihak Socrates
dan seterusnya begitu.
Metode Socrates
tersebut biasanya disebuk dialektika karena dialog atau wawancara mempunyai
peranan hakiki didalamnya. Dalam suatu kutipan yang terkenal dari dialog
Theatitetos, Socrates sendiri mengusulkan nama lain untuk menunjukan metodenya,
yaitu maieutike tekhne (seni
kebidanan). Seperti ibunya adalah seorang bidan, tetapi Socrates tidak menolong
badan bersalin, melainkan Socrates membidani jiwa-jiwa. Socrates sendiri tidak
menyampaikan pengetahuan, tetapi dengan pertanyaan ia membidani penngetahuan
yang terdapat dalam jiwa orang lain.
Dengan pertanyaan lebih lanjut ia menguji nilai pikiran yang sudah
dilahirkan.
Dengan cara dialog
tersebut Socrates menemukan suatu cara induksi, maksudnya berdasarkan beberapa
pengetahuan mengenai masalah-masalah khusus memperoleh kesimpulan pengetahuan
yang bersifat umum. (Sudarsono, 1993,hlm. 888-90)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar