A. Menurut
paradigma filsafat barat
Semua
orang mengetahui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu
diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat? Dari situ timbul pertanyaan
bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan atau darimana sumber pengetahuan
kita? Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat
yang menggunakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa
pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
1.
Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran
yang mengajarkan bahwa pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil
pengamatan yang seperti ini hanya bisa datang dari suatu alamyang tetap dan
kekal. Alam inilah yang disebut oleg guru Aristoles itu sebagai ‘Alam Ide’,
suatu alam dimana manusia sebelum ia lahir telah mendapat ide bawaannya (S.E
Frost 1966). Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami sesuatu
sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja
ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesutu. Karena itu, bagi plato
alam ide inilah alam realitas, sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam
iderawi bukanlah alam yang sesungguhnya.
2.
Empirisme
Paham selanjutnya adalah
empirisme atau realisme, yang lebih memperhatikan arti penting pengamatan
inderawi sebagai sumber sekaligus alat pencapaian pengetahuan (Harold H. Titus
dkk;1984). Aristoles (384-322 SM) yang boleh dikata sebagai bapak empirisme
ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide bawaan yang dibawakan oleh gurunya,
plato. Bagi aristoles, hukum-hukum dan pemahaman itu dicapai melalui proses
panjang, pengalaman empiris manusia (Amin Abdullah;1996)
Dalam paradigma empirisme ini,
sungguh pun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan
manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting,
hanya saja nilai rasio itu tetap diletakan dalam kerangka eempirisme (Harun
Hadiwiyoto;1995) aerinya keberadaan akal disini hanyalah mengikuti
eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk memperoleh kebenaran
kecuali dengan peranteraan indera. Berawal dari sinilah John Locke berpendapat
bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas
putih). Maksudnya ialah bahwa manusiaitu pada mulanya kosong dari pengetahuan,
lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong. Empirisme adalah sebuah paham
yang menganggap bahwa pengetahuan manusia bahwa didapatkan melalui kesan-kesan
yang diterima dari pengalaman (Amsal Baktiar; 2002)
3.
Rasionalisme
Paradigma selanjutnya adalah
Rasionalisme, sebuah aliran yang mengganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh
melalui pertimbangan akal. Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat
menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta
empiris. Faham rasionalisme dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates
(1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan Gottfried Leibniz (1646-1716).
Menurut kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya tedapat ide-ide terpendam
dan proposisi-proposisi umum yang dapaat dibuktikan sebagai kebenaran yang
dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan
verifikasi empiris. Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian
pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia
memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Menurut aliran ini kekeliruan
pada aliran empirisme yang disebabkan kelamahan alat indera dapat dikoreksi,
seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam
memperoleh pengetahuan.
Pengalaman indera diperlukan
untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat
berkerja, tetapi sesampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata akal.
4.
Positivisme
Adanya problem pada empirisme dan
rasionalisme yang menghasilkan metode ilmiah melahirkan aliran positivisme oleh
august comte dan imanuel Kant. August comte berpendapat bahwa indera itu amat
penting dalam meperoleh ilmu pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat
bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Positivisme adalah aliran filsafat yang
berpangkal dai fakta yang positif sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan
dikesampingkan dalam pembicaraaan filsafat dan ilmu pengetahuan (Drs. H. Ahmad
Syadali, M.A; 2004;133). Kekeliruan indera dapatdikoreksi lewat eskperimen dan
eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur
dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran, dan lain sebaginya. Kita tidak
cukup mengatakan api panas atau matahari panas, kita juga tidak cukup mengatakan
panas sekali, panas, dan tidak panas. Dalam hal ini Kant juga menekankan
pentingnya meneliti lebih lanjut terhadap apa yang telah dihasilkan oleh indera
dengan datanya dan dilanjutkan oleh akal dengan melakukan penelitian yang lebih
mendalam. Ia mencontohkan bagaimana kita dapat menyimpulkan kalau kuman tipus
menyebabkan demam tipus tanpa penelitian yang mendalam dan eksperimen. Pada
dasarnya aliran yang diuraikan oelh August Comte dan Immanuel Kant) bukanlah
suatu aliran yang khas berdiri sendiri, tetapi ia hanya menyempurnakan
emperisme dan rasionalisme yang bekerjasama dengan memasukan perlunya
eskperimen dan ukuran-ukuran.
B. Menurut
Saintes Islam
Alam
ini merupakan sumber pengetahuan yang terbuka luas bagi setiap manusia. Alam
yang memiliki hukum yang pasti dan konstan akan membentuk pengetahuan manusia.
Karena hukum alam itulah manusia secara bertahap dapat mengendalikan alam dan
mengadakan pengembangan melalui eskperimen dan riset secara berulang. Hukum
alam dan Al-Qur’an bersumber dari sumber yang sama, yakni Allah SWT. Oleh
karena itu, alam mempunyai kaitan erat dengan ayat-ayat Al-qur’an. Diantara
kaitan tersebut, Al-Qur’an memberikan informasi peristiwa masa yang akan
datang, yang belum bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memberikan
informasi peristiwa masa lampau yang hanya diketahui oleh kalangan yang sangat
terbatas. Terkadang Al-Qur’an mempertegas penemuan para ahli dan terkadang
memberi isyarat untuk dilakukan penyelidikan secara akurat. Al-Qur’an juga
memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan kajian atau pembahasan
suatu persoalan dan memerintahkan agar mendiamkannya (tawakuf) serta
menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT.
Dikalangan
ilmuan muslim, banyak sekali penemuan ilmiah yang orisnial yang terus
dikembangkan dan menjadi milik dunia ilmu pengetahuan modern, termasuk yang
kemudian dikembangkan oleh para ilmuan barat. ilmuan muslim muncul pada masa
keemasan islam (abad ke 7-13) banyak memberi kontribusi pada perkembangan sains
modern, seperti bidang kimia, bidang matematika, kedokteran, geografi, sejarah
dan ilmu-ilmu lainnya.Muhammad Thalhah Hasan mengatakan bahwa sumber ilmu
pengetahuan itu adalah Allah, yang berbeda adalah proses dan cara Allah memberikan
dan mengenalkan ilmu-ilmu tersebut kepada manusia dan mahluk lainnya. Ada diantara ilmu-ilmu tersebut diberikan
melalui panca indera, ada yang dperoleh melalui nalar, adalagi yang ditemukan
melalui pengetahuan dan penelitian empirik, dan ada yang lain didapatkan melalui
wahyu seperti yang didapatkan para Nabi/Rasul. Tetapi sumber dari semua ilmu
itu adalah Allah, dan dari teologi inilah kemudian muncul istilah
‘trasendentalisasi ilmu’, yang artinya bahwa semua ilmu itu tidak dapat
dilepaskan dari kekuatan dan kekuasaan tuhan dan keyakinan seperti ini akan
mempengaruhi konsep dan system pendidikan islam. Allahlah sumber segala ilmu
pengetahuan, sedangkan ilmu yang
dikuasai manusia selama ini sangat terbatas dan sedikit sekali apabila
dibandingkan dengan ilmu Allah.
Semoga
informasi yang ada diartikel inidapat memberikan tambahan informasi kepada
anda-anda semua dan semoga bermanfaat yaJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar