Selasa, 13 Desember 2016

Filsafat sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan


A.      Menurut paradigma filsafat barat
Semua orang mengetahui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat? Dari situ timbul pertanyaan bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan atau darimana sumber pengetahuan kita? Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang menggunakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
1.       Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang seperti ini hanya bisa datang dari suatu alamyang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleg guru Aristoles itu sebagai ‘Alam Ide’, suatu alam dimana manusia sebelum ia lahir telah mendapat ide bawaannya (S.E Frost 1966). Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami sesuatu sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesutu. Karena itu, bagi plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam iderawi bukanlah alam yang sesungguhnya.
2.       Empirisme
Paham selanjutnya adalah empirisme atau realisme, yang lebih memperhatikan arti penting pengamatan inderawi sebagai sumber sekaligus alat pencapaian pengetahuan (Harold H. Titus dkk;1984). Aristoles (384-322 SM) yang boleh dikata sebagai bapak empirisme ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide bawaan yang dibawakan oleh gurunya, plato. Bagi aristoles, hukum-hukum dan pemahaman itu dicapai melalui proses panjang, pengalaman empiris manusia (Amin Abdullah;1996)
Dalam paradigma empirisme ini, sungguh pun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting, hanya saja nilai rasio itu tetap diletakan dalam kerangka eempirisme (Harun Hadiwiyoto;1995) aerinya keberadaan akal disini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk memperoleh kebenaran kecuali dengan peranteraan indera. Berawal dari sinilah John Locke berpendapat bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas putih). Maksudnya ialah bahwa manusiaitu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong. Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia bahwa didapatkan melalui kesan-kesan yang diterima dari pengalaman (Amsal Baktiar; 2002)
3.       Rasionalisme
Paradigma selanjutnya adalah Rasionalisme, sebuah aliran yang mengganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal. Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris. Faham rasionalisme dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Menurut kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya tedapat ide-ide terpendam dan proposisi-proposisi umum yang dapaat dibuktikan sebagai kebenaran yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris. Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Menurut aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelamahan alat indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan.
Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat berkerja, tetapi sesampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata akal.
4.       Positivisme
Adanya problem pada empirisme dan rasionalisme yang menghasilkan metode ilmiah melahirkan aliran positivisme oleh august comte dan imanuel Kant. August comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam meperoleh ilmu pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dai fakta yang positif sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraaan filsafat dan ilmu pengetahuan (Drs. H. Ahmad Syadali, M.A; 2004;133). Kekeliruan indera dapatdikoreksi lewat eskperimen dan eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran, dan lain sebaginya. Kita tidak cukup mengatakan api panas atau matahari panas, kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas, dan tidak panas. Dalam hal ini Kant juga menekankan pentingnya meneliti lebih lanjut terhadap apa yang telah dihasilkan oleh indera dengan datanya dan dilanjutkan oleh akal dengan melakukan penelitian yang lebih mendalam. Ia mencontohkan bagaimana kita dapat menyimpulkan kalau kuman tipus menyebabkan demam tipus tanpa penelitian yang mendalam dan eksperimen. Pada dasarnya aliran yang diuraikan oelh August Comte dan Immanuel Kant) bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri, tetapi ia hanya menyempurnakan emperisme dan rasionalisme yang bekerjasama dengan memasukan perlunya eskperimen dan ukuran-ukuran.
B.      Menurut Saintes Islam
Alam ini merupakan sumber pengetahuan yang terbuka luas bagi setiap manusia. Alam yang memiliki hukum yang pasti dan konstan akan membentuk pengetahuan manusia. Karena hukum alam itulah manusia secara bertahap dapat mengendalikan alam dan mengadakan pengembangan melalui eskperimen dan riset secara berulang. Hukum alam dan Al-Qur’an bersumber dari sumber yang sama, yakni Allah SWT. Oleh karena itu, alam mempunyai kaitan erat dengan ayat-ayat Al-qur’an. Diantara kaitan tersebut, Al-Qur’an memberikan informasi peristiwa masa yang akan datang, yang belum bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memberikan informasi peristiwa masa lampau yang hanya diketahui oleh kalangan yang sangat terbatas. Terkadang Al-Qur’an mempertegas penemuan para ahli dan terkadang memberi isyarat untuk dilakukan penyelidikan secara akurat. Al-Qur’an juga memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan kajian atau pembahasan suatu persoalan dan memerintahkan agar mendiamkannya (tawakuf) serta menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT.
Dikalangan ilmuan muslim, banyak sekali penemuan ilmiah yang orisnial yang terus dikembangkan dan menjadi milik dunia ilmu pengetahuan modern, termasuk yang kemudian dikembangkan oleh para ilmuan barat. ilmuan muslim muncul pada masa keemasan islam (abad ke 7-13) banyak memberi kontribusi pada perkembangan sains modern, seperti bidang kimia, bidang matematika, kedokteran, geografi, sejarah dan ilmu-ilmu lainnya.Muhammad Thalhah Hasan mengatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan itu adalah Allah, yang berbeda adalah proses dan cara Allah memberikan dan mengenalkan ilmu-ilmu tersebut kepada manusia dan mahluk lainnya.  Ada diantara ilmu-ilmu tersebut diberikan melalui panca indera, ada yang dperoleh melalui nalar, adalagi yang ditemukan melalui pengetahuan dan penelitian empirik, dan ada yang lain didapatkan melalui wahyu seperti yang didapatkan para Nabi/Rasul. Tetapi sumber dari semua ilmu itu adalah Allah, dan dari teologi inilah kemudian muncul istilah ‘trasendentalisasi ilmu’, yang artinya bahwa semua ilmu itu tidak dapat dilepaskan dari kekuatan dan kekuasaan tuhan dan keyakinan seperti ini akan mempengaruhi konsep dan system pendidikan islam. Allahlah sumber segala ilmu pengetahuan, sedangkan  ilmu yang dikuasai manusia selama ini sangat terbatas dan sedikit sekali apabila dibandingkan dengan ilmu Allah.

Semoga informasi yang ada diartikel inidapat memberikan tambahan informasi kepada anda-anda semua dan semoga bermanfaat yaJ

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar