Kamus Besar
Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ‘fase’ adalah tingkatan masa (perubahan,
perkembangan, dsb). Sehingga dapat disimpulkan perkembangan ataupun perubahan
tahap-tahap penciptaan alam semesta dalam hal ini ditinjau dari al-Qur’an dan
tidak lupa juga menyertakan penjelasan di dalam Hadits. Akan tetapi, menyusun
tahapan penciptaan alam semesta di dalam a-Qur’an bukan perkara yang mudah –
disamping minimnya referensi terutama asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat)
ataupun penjelasan dari hadits berkaitan dengan fase-fase penciptaan diperparah
dengan kemunculan cerita-cerita dari Israiliyat dan hadits yang dlaif maupun
maudlu (palsu).
Sebab, dari segi
susunan ayat yang menerangkan tahapan penciptaan di dalam al-Qur’an seolah
mengalir seperti firman Allah di dalam surat Fushilat ayat 9-12. Tidak seperti
puzzle yang memang harus disusun sehingga membentuk satuan gambar yang utuh
bisa dikenali. Namun, jika disusun seperti puzzle yang pernah kita mainkan maka
akan membentuk sebuah gambaran penciptaan alam semesta yang saat ini dunia akui
keabsahannya dari berbagai rangkaian eksperimen dan bukti yang otentik.
Enam Masa
Penciptaan Alam Semesta.
Al-Qur’an
menyebutkan dalam sittati ayyaamin yang berarti enam masa yang panjang.
Sebagaimana dalam
al-qur’an (Q.S. Al-Sajdah [32] :4 ):
“Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu
enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.Kamu semua tidak memiliki seorang
penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak
memperhatikannya ?”
Dari ayat di
atas Allah SWT menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati
ayyaamin) selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa
yang disebut dengan (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses
bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.
Adapun kronologis penciptaan
dalam Al-Qur’an adalah :
Fase Pertama
“Dan apakah orang-orang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)
Ini dimulai
dengan sebuah ledakan besar (bigbang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu.Inilah
awal terciptanya materi, energy, dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah
pengembangan ruang.Materi yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi
bahan dasar bagi bintang-bintang generasi pertama.Hasi fusi nuklir antara
inti-inti hydrogen, meghasilkan unsure-unsur yang lebih berat, seperti karbon,
oksigen, sampai besi atau disebut juga Nukleosintesis
Big Bang.
Nukleosintesis Big Bang terjadi pada tiga menit pertama penciptaan alam
semesta dan bertanggung jawab atas banyak perbandingan kelimpahan 1H
(protium), 2H (deuterium), 3He (helium-3),
dan 4He (helium-4), di alam semesta.Meskipun 4He terus
saja dihasilkan oleh mekanisme lainnya (seperti fusi bintang dan peluruhan
alfa) dan jumlah jejak 1H terus saja dihasilkan oleh spalasi dan jenis-jenis khusus peluruhan radioaktif (pelepasan
proton dan pelepasan neutron) sebagian besar massa isotop-isotop ini di alam semesta,
dan semua kecuali jejak-jejak yang tidak signifikan dari 3He
dan deuterium di alam semesta yang dihasilkan oleh proses langka seperti peluruhan kluster, dianggap dihasilkan di dalam proses Big Bang. Inti atom unsur-unsur ini,
bersama-sama 7Li, dan 7Be diyakini terbentuk
ketika alam semesta berumur 100 sampai 300 detik, setelah plasma kuark–gluon primordial membeku untuk membentuk proton dan neutron.
Karena periode nukleosintesis Big Bang sangat singkat sebelum terhentikan oleh
pengembangan dan pendinginan, tidak ada unsur yang lebih berat daripada litium yang
dapat dibentuk.(Unsur-unsur terbentuk pada waktu ini adalah dalam keadaan
plasma, dan tidak mendingin ke keadaan atom-atom netral hingga waktu lama).
Fase Kedua
“Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan)
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Masa ini adalah
pembentukan langit. Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah
disebabkan hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar
atmosfer langit biru tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang ,
galaxy, dan benda-benda langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru
yang ada di atas sana, melainkan keseluruhan yang ada di atas sana
(bintang-bintang, galaxy, dan benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat
langit yang sesungguhnya. Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di
dalam galaxy yang masih berlangsung hingga saat ini.
Fase Ketiga
Pada masa ini
dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk
bumi. Selain itu pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari
sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin
matahari. Proto-bumi (bayi bumi) yang telah terbentuk terus berotasi
menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi sebagaimana yang Allah SWT
firmankan dengan indah :
“dan Dia menjadikan malamnya
gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.” Q.S An-Nazi’at [79] : 29
Fase Keempat
Bumi yang
terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan
pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan
unsure-unsur radioaktif di bawah kulit bumi.
Akibat pemanasan endogenik itu
materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai lava dari
gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang
menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan
tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang
tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :
“dan bumi sesudah itu
dihamparkan-Nya.”(Q.S. an-Naziat [79]
:30)
Fase Kelima
Hadirnya air dan
atmosfer di bumi menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana
firmanAllah SWT :
“…dan dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup… “ (Q.S.
al-anbiya [21] : 30
Selain itu,
pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan
halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas
metan (CH4)dan ammonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas
dengan bantuan energi listrik dan halilintar diduga menjadi awal
kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air
akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang
hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah
ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada surat Al Anbiya [21] ayat 30 yang
telah menyebutkan bahwasannya semua makhluk hidup berasal dari air.
Fase Keenam
Masa keenam
dalam proses penciptaan ala mini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang
dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan.Hadirnya tumbuhan dan
proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai
terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang
menyebabkan pergeseran lempengan tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di
bumi terus berlanjut.
Setelah mengkaji cara Al-Quran menjelaskan tentang
penciptaan alam semesta. Penulis menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an
adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan antara satu sama
lainnya. Seperti yang penulis kutip dari seorang ilmuan besar Albert Einsten:
”religion without science is blind and science without religion is damage.”
(Albert Einstein, 1960).
Ilmu yang tidak
disertai dengan agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan
iman. Sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah
mengartikannya. Sebagaimana orang-orang materalis yang selalu menentang akan
adanya penciptaan alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat
signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran
agama.
Untuk itu penulis dapat
menyimpulkan bahwa :
[1] Kebenaran Al-Qur’an akan
selalu terbukti sampai kapanpun.
[2] Alam semesta berasal dari
ketiadaan dan kemudian menjadi ada, ( terjadi proses penciptaan) oleh Allah SWT
[3] Penciptaan alam semesta
terjadi secara berproses (berkembang) sebagaimana yang telah Al-Qur’an
jelaskan dan tidak statis (tetap).
[4] Al-Qur’an lebih dahulu
menceritakan tentang proses penciptaan alam semesta jauh sebelum ilmu
pengetahuan mencapainya (sekitar abad 6) dan kini kebenaran Al-qur’an itu sudah
dapat dibuktikan kebenarannya dengan adanya kecocokan dalam sains (abad-20).
[5] Ilmu dan agama akan selalu
sejalan selaras bersamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar