Blog
saya berikutnya akan membahas tentang aliran-aliran yang cukup berpengaruh yang
dituliskan oleh Juhaya S Praja (2003) dalam bukunya yang berjudul “Aliran
Filsafat dan Etika” menuliskan bahwa aliran-aliran filsafat yang cukup
berpengaruh diantaranya adalah....
1.
Rasionalisme
Aliran
ini sangat mementingkan rasio dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu
masalah. Dalam aliran ini sangat mendambakan otak atau rasio sebagai
satu-satunya yang menjadi alat untuk menyelesaikan masalah, karena menurut
aliran ini didalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun
suatu ilmu pengetahuan
2.
Empirisme
Aliran
ini memberikan tekanan pada empiris atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
Istilah empiris ini berasal dari kata yunani, empiria yang berarti pengalaman
inderawi. Empiris ini sangat bertentangan dengan aliran rasionlisme, terutama
dilihat dari sumber pengetahuannya.
3.
Kritisme
Filsafat
yang dikenal dengan kritisme adalah fisafat yang diintrodusir oleh imanuel
Kant. Kritisme ini bisa dikatakan aliran yang memadukan atau mendamaikan
rasionalisme dan empirisme. Menurut aliran ini baik rasionalisme maupun
empirisme keduanya berat sebelah.
4.
Materialisme
Aliran
ini mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa (self), dan dunia materi
adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tetang dunia ini adalah nomer 2.
Terdapat 2 bentuk aliran materilisme, yaitu materialime mekanik mengatakan
bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi yang
bergerak yang kedua materialime dialektik menilai bahwa dunia misterius ini
konstan dalam perkembangan maupun regenerasinya.
5.
Idealisme
Idealisme
menekankan akal (moral) sebagai hal yang terlebih dahuku daripada materi, bahwa
akal itulah yang rill dan materi hanya merupakan produk sampingan. Idealisme mengatakan
bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran , akal atau jiwa dan bukan
benda material.
6.
Positivisme
Positivisme
berasal dari kata “positif” yang berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan
fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi
fakta-fakta. Positivisme, seperti empirisme, mengutamakan pengalaman sebagai
sumber pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar