Padi di sawah yang mendekati masa panen akan
terlihat merunduk (tidak tegak) karena beban bulir padi yang berisi. Dengan
kata lain, padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Dalam pergaulan
hidup, ketika seseorang kebetulan dianugerahi Allah kepandaian/ilmu yang
mumpuni, kekayaaan, dan pangkat kedudukan, hendaklah meniru padi, yaitu bisa
bersikap rendah hati. Rendah hati berarti bukan sombong dan pongah memamerkan
kepandaian atau ilmunya sehingga terdapat kecenderungan bahwa ia adalah yang paling
pandai. Orang yang demikian akan selalu meremehkan yang lain dan sulit
menghargai orang lain karena ia selalu merasa paling unggul di dunia ini. Sikap
demikian itu disebut sikap yangadigang, adigung, adiguna, yang kurang lebih
berarti mentang-mentang kaya, mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang
kuat. Rendah hati di dalam filosofi Jawa adalah sikap andhap asor,
yaitu sikap merendah tanpa menghilangkan wibawa.
Ketika berilmu tinggi dan mumpuni hendaklah
seseorang tidak sombong (kumalungkung) atau bahkan membodohi serta mencederai
orang lain. Kekayaan hendaklah tidak menjadikan seseorang pelit dan serakah.
Ibarat minum air samudra semakin lama akan semakin terasa haus, tanpa batas.
Sudah ada beberapa peristiwa di tanah air yang melambangkan sikap seperti ini.
Tapi, toh akhirnya terlihat betapa serakah dan melanggar aturan moral dan
agama. Begitu pula dengan masalah pangkat dan kedudukan. Bila Allah
menganugerahkan derajat tinggi dengan menduduki suatu jabatan penting,
hendaklah seseorang tidak menyalahgunakannya. Justru bersikaplah yang amanah
dan kembalikanlah hak-hak serta manfaat dari perolehan kedudukan tersebut
kepada kemashlahatan orang banyak. Menjadi pemimpin hendaklah tidak memiliki
sifat murka, lupa daratan, dll. Bila ingin dihormati maka menghormatilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar